“Ingkling”, lempar gacuknya, dan dapatkan sawahnya

Lempar gacuk-nya dan lompat-lompat dengan satu kaki. Kelilingi setiap kotak dan miliki sawah sebanyak-banyaknya, agar lawan semakin tak kuasa melompatkan kakinya. Permainan apa itu? Ah, mungkin anda sudah lupa karena sudah berpuluh tahun tak memainkannya. Atau, mungkin anda tak mengenalnya sama sekali sebab tinggal di luar Indonesia hingga lebih biasa memainkan basket, skateboard, atau mungkin playstation. Permainan itu bernama ingkling, yang kira-kira berarti berjalan atau melompat dengan satu kaki. Seperti namanya, inti permainannya adalah melompat dengan satu kaki. Yang harus dilompati adalah kotak-kotak yang digambar di atas tanah atau lantai semen. Sebagai alatnya, digunakan gacuk, benda pipih yang dilemparkan ke setiap kotak dan harus dilompati pada saat bermain, bahannya bisa berupa kereweng (pecahan genteng) ataupun pecahan tegel.

Gacuk mesti dilempar ke semua kotak yang dibuat, mulai dari kotak pertama hingga kotak pertama lagi. Kotak yang berisi gacuk tak boleh diinjak, alias mesti dilompati. Gacuk lawan juga tak boleh terinjak, kalau terinjak akan terkena aturan midak gacuk (menginjak gacuk) sehingga giliran pun berpindah ke peserta lain. Gacuk juga tidak boleh terlempar ke kotak yang salah atau jatuh pada garis antar kotak. Jika terjadi, giliran juga akan berpindah ke peserta lain.

Setiap peserta berlomba untuk menjadi orang pertama yang berhasil melemparkan gacuk ke semua kotak. Siapa yang lebih dulu, dialah yang berhak membuat sawah pada kotak tertentu. Namun, sebelum membuat sawah, peserta mesti ingkling mengelilingi kotak dengan gacuk yang ditaruh di telapak tangan atas, kemudian melemparkan gacuk ke ke kotak tertentu dengan membelakangi arena permainan. Kotak tempat jatuhnya gacuk itulah yang berhak dibuat sawah.

Serunya anak-anak bermain ingkling hingga kini masih bisa ditemui di beberapa kampung di Yogyakarta sekitar pukul 15.00 hingga sebelum Maghrib. Permainan ini kadang juga dimainkan oleh anak-anak saat istirahat sekolah. Nah, anda yang pernah bermain mungkin sekarang ingat pengalaman saat keringat bercucuran setelah bermain ingkling lalu membeli es limun di depan pagar sekolah dan akhirnya masuk kelas dengan baju lusuh dan bau.

Sebenarnya, permainan yang juga sering disebut engklek atau engkling ini cukup beragam. Ada ingkling pesawat yang susunan kotaknya berbentuk serupa pesawat, kemudian ingkling gunung dan ingkling kitiran (kincir angin) yang bentuknya serupa gunung dan kitiran. Satu lagi adalah ingkling saruk yang dimainkan dengan susunan kotak ingkling pesawat namun gacuk-nya di-saruk (ditendang menggunakan ujung kaki).

Ingkling biasanya dimainkan oleh 2 anak atau lebih. Bila jumlah pemain lebih dari 2 orang, permainan dimulai dengan hom pim pa untuk menentukan peserta yang lebih dulu bermain. Jika peserta hanya 2 orang atau hanya tinggal 2 orang yang beradu menentukan giliran main, maka dilakukan ping sut. Biasanya, setiap anak berebut hingga kadang bermain curang dengan membalikkan lagi telapak tangan atau mengganti jari yang diadu.

Ada juga yang curang saat permainan berlangsung. Misalnya, ada peserta yang menarik kembali kakinya saat menginjak garis agar giliran main tak berpindah ke orang lain. Saat bermain ingkling saruk, ada peserta yang menarik kembali gacuk yang melebihi garis batas, juga agar giliran tak berpindah. Sewaktu ada peserta yang bermain curang inilah biasanya peserta lain akan berteriak, “Weeee, urik hayo!” (= Wek, curang) sambil tertawa-tawa mengejek.

Bagian permainan yang seru adalah ketika ada seorang peserta yang dominan karena memiliki banyak sawah dan terletak di kotak yang berurutan. Derai tawa biasanya mengalir, sebab banyak peserta yang terjatuh karena tak berhasil melompati sawah lawan. Setelah itu, banyak wajah cemberut yang akan terlihat dari beberapa peserta, kecuali wajah pemain dominan yang biasanya tampak nyengir dengan bangga.

Lewat ingkling, anak-anak juga belajar mencintai sesuatu yang berharga. Kadang, ada anak yang menyimpan gacuk yang dianggap selalu dapat memberi kemenangan bagai sebuah jimat. Tapi, di sini pula keisengan anak juga mulai muncul. Secara sengaja, ada anak yang berusaha membuang gacuk lawan mainnya. Dari peristiwa itu, pertengkaran kecil muncul diantara anak-anak, yang ujungnya kadang berupa tangisan.

Nah, seru dan haru, kan? Anda yang ingin menyaksikan permainan ini bisa menuju beberapa perkampungan di Yogyakarta. Salah satunya perkampungan di daerah Sewon, Bantul. Ingin memainkannya di waktu senggang saat selesai berwisata? Coba saja. Pasti seru dan mampu membuka kembali ingatan masa kecil yang indah. Anda juga bisa membuat petak sawah di atas pesawat, tentu yang dimaksud adalah petak-petak ingkling yang berbentuk serupa pesawat.

~ oleh lumi pada Agustus 25, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: